Kisah Bambang Sutrisno, Eks Pekerja Migran yang Sukses Rintis Jempol Food

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Jalan Sembuh Wetan, Sidokarto, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, Sabtu (11/1/2025) pagi, tidak begitu ramai lalu lalang kendaraan.
Satu pelakat bertuliskan “Jempol Food”, lengkap dengan petunjuk arah tampak terpasang di pertigaan Jalan Sembuh Wetan itu.
Lokasi kantor Jempol Food berada di sebuah gang, tidak jauh dari pertigaan tersebut. Sejumlah sepeda motor tampak terparkir di lokasi yang teduh, tepat di depan kantor.
Di salah satu ruangan, para pegawai terlihat sibuk mengerjakan pekerjaannya.

Berbagai produk Jempol Food seperti kulit lumpia, kulit pangsit, kulit dimsum hingga mie dengan merk Cap Jempol terpajang rapi di dalam ruangan tersebut.

Tak lama, seorang pria dengan pakaian sederhana dan senyum ramah menghampiri Kompas.com.
Dia adalah Bambang Sutrisno, sang pemilik Jempok Food.
Dua gelas kopi hitam panas tersaji di atas meja, siap menemani perbincangan pagi itu.
Sembari duduk di kursi teras, Bambang yang merupakan mantan pekerja migran Indonesia (PMI) menceritakan perjalanan hidupnya hingga sampai pada posisinya saat ini.

Tentu saja, tak semudah membalikkan telapak tangan.
“Saya dulu di sela-sela kuliah sudah mulai berwirausaha. Saya sempat kuliah di UNY, masuk tahun 98,” ujar Bambang mengawali kisahnya, Sabtu (11/01/2025).
Sembari kuliah, Bambang menjajal usah jual beli rongsok atau barang bekas.
Modal usahanya pun dari jerih payah sendiri. Di usia muda, Bambang menjadi makelar jual beli sepeda motor dan barang elektronik.
Keuntungan dari menjadi makelar itu ditabungnya, hingga terkumpul modal usaha rongsok.

Tas kuliah berisi karung
Lebih dari 20 tahun lalu, setiap hari Bambang memacu sepeda motornya ke kampus.
Selain menimba ilmu, Bambang juga selalu membawa karung dan memasang rombong atau keranjang untuk mengangkut barang bekas, baik barang elektronik atau kertas bekas di sepeda motornya.

“Saya kemana-mana bawa karung, kuliah itu di dalam tas saya itu karung. Terus motor itu saya kasih kronjot (rombong),” ucapnya.
Bukan tanpa alasan, Bambang memilih usaha barang bekas di awal masa perkuliahannya.
Zaman itu, kata Bambang, usaha rongsok jarang yang melirik. Pada masa itu, barang-barang bekas termasuk kertas bekas masih dianggap tidak memiliki nilai ekonomi.
“Enaknya pada waktu itu, belum banyak pesaingnya. Banyak orang menganggap hanya sampah, padahal bisa menjadikan nilai ekonomis kalau dipilah-pilah dengan tepat. Kertas bekas kalau dipilah-pilah nilainya bisa tinggi ternyata,” tuturnya.
Di sela-sela perkulihan, Bambang menemui para dosen untuk membeli kertas yang sudah tidak terpakai.
Beberapa dosen terkadang memberikan tumpukan kertas bekas cuma-cuma. Rejeki nomplok.
“Kebanyakan yang saya beli itu (kertas bekas) punya dosen-dosen. Kadang-kadang ada dosen yang bilang dibawa saja tidak usah bayar, ini cuma sampah kok,” ungkapnya.

Sekitar tahun 2001, saat semester VI, Bambang memutuskan untuk menikah. Setelah itu, usaha rongsoknya tidak lagi diteruskan.
Dia kembali memutar otak untuk menghidupi keluarga. Mulai dari membuka warung kelongtong, warung makan hingga jualan donat keliling.
“Sempat juga istri usaha warung makan, saya usaha keliling jual donat. Jadi ambil (donat) di pabrik, di titip-titipkan ke warung-warung,” ungkapnya.

Beralih jadi pekerja migran, hampir ditipu calo

Saat jualan donat di salah satu toko di daerah Medari, Kabupaten Sleman, Bambang mendengar ibu-ibu memperbincangkan tetangganya yang mendapatkan gaji besar karena bekerja di luar negeri.
Mendengar gaji yang besar, Bambang pun merasa tertarik berangkat kerja ke luar negeri.
Mengingat, jika dia tetap menekuni usahanya, butuh waktu lama untuk sampai mapan secara ekonomi menghidupi keluarga. Kala itu, Bambang sudah memiliki seorang anak.
“Saya harus melakukan sesuatu. Kalau pinjam bank, jelas tidak mungkin kita nggak punya jaminan. Satu-satunya jalan, saya harus ke luar negeri untuk mencari modal,” tuturnya.
Bambang kemudian mencari informasi demi mewujudkan keinginan bekerja di luar negeri untuk mencari modal. Di tengah-tengah mencari informasi tersebut, Bambang mengaku sempat hampir tertipu oleh calo.

Setelah mendapat informasi yang valid, Bambang beserta istrinya mendaftar untuk berangkat kerja ke luar negeri. Keduanya bertekad mencari modal dengan kerja di luar negeri.
“Saya daftarnya nggak cuma Korea, Jepang, Brunei, Malaysia Saya daftar. Pokoknya semua jurusan luar negeri, saya daftar. Ternyata yang bisa berangkat cepat Korea itu,” ujarnya.

Berangkat ke Korea

Pada 2005, Bambang kemudian berangkat untuk bekerja di Korea. Sementara istrinya, berangkat bekerja di Malaysia setahun sebelumnya.
“Istri berangkat duluan ke Malaysia tahun 2024. Saya tahun 2005. Kebetulan waktu itu baru awal (program) G to G. Adanya G to G ini biayanya tidak mahal, cuma biaya pesawat saja,” bebernya.
PMI sistem G to G Korea adalah program penyaluran tenaga kerja Indonesia (PMI) ke Korea Selatan secara resmi dan aman. Program ini dikelola oleh Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).
“Ketika saya berangkat, istri saya suruh pulang untuk jaga anak. Begitu saya berangkat, istri pulang,” imbuhnya.

Berangkat modal nekat, tak bawa uang ke Korea
Pengalaman menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) di Korea masih membekas di ingatan pemilik usaha Jempol Food ini.

Bambang mengaku nekat berangkat ke Korea pada tahun 2005 meski tidak memiliki uang saku. la bahkan terpaksa harus meminjam uang kepada tetangganya.
“Saya mau berangkat saja hutang sama tetangga Rp 300.000, untuk beli tiket pesawat Jogja-Jakarta Rp 250.000. Sisa Rp 50.000 saya pakai untuk bayar ojek, habis,” ucap Bambang.
Sesampainya di Korea, Bambang mengaku bingung. Sebab Bambang mengira akan ada yang mendampingi saat di Korea. Ternyata Bambang harus benar-benar mandiri saat berada di Korea.
“Pertama, saya bingung. Ini sistem G to G. Saya mengira ada agensinya yang akan mengurusi kalau ada permasalahan, ada penerjemahnya artinya ada yang mendampingi. Ternyata nggak, kita di sana lepas, benar-benar mandiri,” ungkapnya.

Awal mula bekerja di salah satu pabrik di Korea, Bambang pun sempat kaget karena menjadi pekerja satu-satunya yang berasal dari Indonesia. Sementara pekerja di pabrik tersebut kebanyakan berasal dari India.

Ternyata, pihak pabrik menerima Bambang karena mengira berasal dari India.
“Ternyata, orang Korea mengira saya orang India. Bahasa Koreanya India itu Indo, kalau Indonesia tetap Indonesia. Nah dikira Indonesia dengan Indo (India) itu sama. Mereka mengambil saya dikira India,” ucapnya.
Di pabrik tersebut, Bambang memiliki badan relatif kecil dibandingkan pekerja dari India. Meski berbadan kecil, Bambang tetap dituntut untuk bekerja mengangkat barang-barang yang berukuran besar.
“Saya di situ jadi sasaran kemarahan orang pabrik, sering dimaki-maki, dimarahin. Dituntut angkat barang harus gede-gede, teman saya raksasa-raksasa semua, saya kecil sendiri. Nah sering dimarahi,” ucapnya.

Sempat kabur

Pihak pabrik tempat Bambang bekerja juga tidak memberikan gaji yang sesuai standar di Korea. Selain itu Bambang juga tidak mendapatkan jatah makan dari pihak pabrik.
Kondisi yang jauh dari bayangan Bambang tersebut sempat membuatnya menangis. Apalagi Bambang saat itu tidak memiliki uang dan berharap mendapatkan jatah makan.
“Tinggal di mess, itu saja saya tidak di kasih makan, saya nangis kan datang ke Korea nggak bawa duit. Ternyata di situ tidak ada jatah makan,” ungkapnya.
Beruntung di dalam satu mess ada pekerja dari India yang membantu Bambang. Pekerja dari India tersebut memberi uang dan makan.
“Untung di situ ada orang India yang baik sama Saya. Saya dikasih duit, diajak makan, kan mereka masak sendiri. Terus Saya diajari bahasa Korea,” ucapnya.

Mendapati gaji yang tidak sesuai standar serta tidak mendapatkan jatah makan, Bambang kemudian mengajukan izin untuk “resign”. Namun dari pihak pabrik justru marah mengetahui Bambang ingin keluar.

“Saya lalu lari dikejar sama pihak pabrik dan tertangkap, terus dinaikan pick up. Saat perjalanan mereka lengah, Saya loncat, Saya luka-luka,” tuturnya.
Setelah berhasil melarikan diri, Bambang kemudian melapor ke salah satu yayasan pekerja migran yang ada di Korea. Yayasan tersebut memberikan perlindungan, tempat tinggal hingga makan.
Yayasan tersebut juga membantu menyelesaikan permasalahan yang dialami Bambang.
Tak hanya yayasan, pihak pemerintah Korea yang mengurusi perlindungan pekerja pun turun tangan membantu Bambang.
Bambang menceritakan saat itu dari Pemerintah Korea yang mengurusi perlindungan pekerja menghubungi pihak pabrik dan memarahi bos pemilik pabrik.
“Saya punya masalah, saya melaporkan. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, Dinas Perlindungan itu telepon bos (pabrik) sampai dimaki-maki, diancam kalau tidak segera ke sini akan dituntut secara hukum,” tuturnya.

Menurut Bambang Pemerintah Korea memang sangat peduli dengan para pekerja, baik soal gaji maupun perlindungan. Pemerintah Korea juga tidak membeda-bedakan soal perlindungan dan gaji antara pekerja lokal dengan pekerja migran.

Sebab Pemerintah Korea paham industri di Korea dapat berjalan karena peran dari para pekerja.
“Pemerintah Korea sangat peduli, karena Pemerintah Korea memahami industri bisa berjalan kalau ada tenaga kerjanya. Sehingga mereka berkepentingan menjaga tenaga kerja ini untuk tetap tinggal dengan baik,” ucapnya.
Bambang akhirnya bertemu dengan pihak pabrik dengan didampingi oleh yayasan dan Pemerintah Korea yang mengurusi perlindungan pekerja. Hasil dari pertemuan tersebut, Bambang diperbolehkan untuk pindah kerja.

“Kan ditanya mau menuntut secara hukum, nanti akan dapat kompensasi atau mau pindah kerja saja. Saya waktu itu sudah drop, udah saya nggak mau menuntut apa-apa yang penting pindah kerja saja,” tuturnya.

Pindah kerja…

Setelah itu Bambang datang ke Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Korea untuk mencari informasi lowongan pekerjaan. Berdasarkan informasi yang didapat, Bambang dengan mandiri mendatangi satu persatu perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.
“Saya datangi sendiri, tidak ada agen. Persoalanya kalau nggak ngerti arah, nggak ngerti naik kereta, naik bus ya kita repot. Kita harus belajar sendiri, memaksakan diri sendiri,” ucapnya.
Berkat usaha kerasnya, Bambang akhirnya diterima bekerja di pabrik tutup botol. Di tempat kerjanya ini Bambang merasa betah karena mendapatkan gaji yang baik hingga bonus.

Pabrik juga memberikan mess yang layak dan jatah makan tiga kali sehari. Selain itu banyak juga orang Indonesia yang berkerja di pabrik tersebut.
Setelah empat tahun bekerja di pabrik tutup botol, Bambang merasa bosan dan memutuskan untuk “resign”. Bambang ingin pindah ke tempat kerja yang secara gaji lebih besar.
“Saya sudah bosan, ingin mencari pekerjaan yang lain. Saya izin baik-baik sama bosnya dan nggak ada masalah,” tuturnya.
Bambang menyampaikan setelah dari pabrik tutup botol dirinya masih sempat pindah-pindah tempat kerja, mulai dari las, pabrik besi, hingga peleburan aluminium.
Hingga akhirnya saat di pabrik dinamo, Bambang sudah sampai pada tahap kehilangan semangat bekerja.
Rasa malas dan tidak semangat Bambang tersebut, dipicu adanya permasalahan dengan istrinya.

“Setelah di peleburan aluminium saya sudah malas banget, karena ternyata di rumah sedang ada problem. Hasil kerja, di rumah kok nggak kelihatan, saya kerja keras seperti ini kok nggak kelihatan hasilnya, duit kok habis,” ungkapnya.
Bambang kemudian memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Namun sebelum pulang ke Indonesia, Bambang menutup perjalananya bekerja di Korea dengan berangkat haji.
Pilihan Bambang berangkat haji dari Korea karena dengan pertimbangan lebih cepat.
“Terakhir saya di perusahaan dinamo, saya sudah maksimal, terakhir kali dan saya mau pulang ke Indonesia. Saya mau mengakhiri dengan berangkat haji, kemudian pulang ke Indonesia,” ucapnya.

Pulang ke Indonesia

Pada tahun 2016 Bambang pulang ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia Bambang mendapati istrinya sudah meninggalkanya.

Tak cukup disitu, usaha yang dirintis dari modal bekerja di Korea pun bangkrut.
“Pulang ke Indonesia, ternyata benar rumah kondisinya morat marit, bisnis ambleg. Saya bener-bener down, ibu juga wafat, saya sudah nggak punya siapa-siapa lagi, uang juga habis,” ungkapnya.
Bambang pun sudah tidak memiliki uang hasil dari bertahun-tahun kerja di Korea. Justru Bambang memiliki hutang.
Hutang tersebut saat Bambang pulang ke Indonesia pada tahun 2011. Saat itu Bambang memulai usaha gurami. Namun ternyata tidak semulus yang dibayangkan, usaha tersebut gagal.
“2011 kan saya pulang setahun, saya usaha gurami gagal, malah hutangnya banyak,” bebernya.

Pengalaman tersebutlah yang kemudian mendorong Bambang konsen pada para mantan pekerja migran.
Sebab menurut Bambang, kebanyakan mantan pekerja migran Indonesia nekat langsung nekat menggunakan semua uangnya untuk usaha.
Padahal mereka tanpa pengalaman, tanpa ilmu dan tanpa pendamping. Alhasil usahanya gagal dan kemudian meminjam uang di bank.

“Ambrug, nggak mau menyerah hutang bank, jadi kayak judi untuk menopang lagi. Tidak cuma saya, 90 persen TKI mengalami seperti itu, yang sukses itu 10 persenya, karena dia hati-hati dan lainya orang mantan gagal. Kayak saya ini orang mantan gagal, orang bilang saya sekarang sukses, saya ini mantan orang gagal total,” pungkasnya.

 

Artikel ini dimuat di kompas.com:
https://yogyakarta.kompas.com/read/2025/01/14/111754378/kisah-bambang-sutrisno-eks-pekerja-migran-yang-sukses-rintis-jempol-food?page=all

Scroll to Top